Salamat Datang Di Blog Desa Muarah Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan | Kuliah Kerja Nyata Universitas Trunojoyo Madura

Sejarah Asal Mula Desa Muarah


Pada zaman sebelum masuknya agama Islam di Indonesia, masa pemerintahan kerajaan Songenep di Sumenep terdapat seorang pemimpin yang sakti madraguna serta bijaksana. Beliau adalah Joko Tole. Pada suatu masa, Joko Tole berkunjung ke Ujung Piring. Joko Tole menggunakan kesaktian yang dimilikinya dengan membuat penanda jika terdapat seorang musuh yang melintas di daerah tersebut. Joko Tole membuat piring sakti yang bisa terbang, sehingga jika terdapat musuh yang melintas pada daerah piring terbang, maka piring tersebut akan jatuh. Akibatnya, orang yang melintas terkena aji-aji dari kesaktian Joko Tole.

Suatu hari,  Raja dari Luar Negeri yang bernama Dempo Awang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Laksamana Cheng Ho (gelar kebangsawanan dari China) datang ke Indonesia. Laksamana Cheng Ho merupakan seorang yang memiliki kesaktian madraguna pula. Laksamana Cheng Ho masuk ke Indonesia melalui bagian ujung Barat dari Indonesia yakni Sabang (Serambi Makkah) menggunakan perahu yang memiliki kesaktian. Perahu yang ditumpangi olehnya dapat berjalan di darat, di lautan, dan terbang di angkasa. Laksamana Cheng Ho mempunyai misi yakni untuk mengambil seluruh gadis perawan Indonesia yang kaya dari Sabang hingga Merauke. Hingga suatu hari, Laksamana Cheng Ho sampailah ke Pulau Jawa. Sesampai di Pulau Jawa, keperawanan wanita jawa diambil alih pula menggunakan kekuatan do’anya.

Setelah menyelesaikan misinya di Pulau Jawa, Laksamana Cheng Ho menuju Pulau Madura yang berbatasan lautan dengan Pulau Jawa. Perahu yang dinahkodai oleh Laksamana Cheng Ho menuju bagian ujung Pulau Madura melintasi daerah Kamal. Tujuan selanjutnya yakni menuju Ujung Piring. Dalam perjalannya menuju persinggahan sempat mengalami kendala. Perahu yang ditumpanginya tersangkut di Muarah sungai yakni sungai yang berhubungan langsung dengan lautan yang dilintasi oleh Laksamana Cheng Ho. Untuk mengatasi hal tersebut Laksamana Cheng Ho membabat habis pepohonan di sekitar sungai tersebut. Hingga sampai sekarang di sekitar mulut sungai tersebut tidak ditumbuhi pepohonan apapun. Perahu yang dikemudikannya selanjutnya memasuki daerah Ujung Piring. Sesampainya di Ujung Piring ternyata perahu beserta awaknya yang dinahkodai Laksamana Cheng Ho terkena aji-aji yang telah disiapkan oleh Joko Tole. Oleh karena itu, ketika melintas di perbatasan Ujung Piring terdengar suara piring jatuh. Akibat aji-aji dari Joko Tole, perahu yang ditumpangi oleh Laksamana Cheng Ho berubah menjadi batu. Pada masa ini, perahu itu dapat dilihat di perbatasan Bangkalan dan Sampang. Akibat aji-aji Joko Tole pula, sehingga menjadi mitos yang dipercayai masyarakat sekitar bahwasanya jika terdapat perahu yang melintas daerah tersebut, maka akan terdengar suara piring dan angsa yang seakan tercebur atau jatuh ke sungai.

Beberapa abad kemudian setelah masa kerajaan Hindu-Budha serta penjajahan Belanda dan Jepang usai, dikenal istilah masa pra kemerdekaan. Masa itu terdapat seorang perempuan asal Pulau Jawa merantau ke Pulau Madura tepatnya di Gunung Geger tepatnya di Pulau Kambang. Beberapa masa kemudian, datanglah seseorang dengan suku Bugis yang hendak berlayar ke Pulau Madura. Kedatangan perahu yang ditumpangi suku Bugis tersebut terdampar di Muarah sungai yang pernah dilintasi oleh Laksamana Cheng Ho beberapa abad yang lalu. Orang bersuku Bugis tersebut menamai tempat terdamparnya perahu dengan sebutan Moarah. Nama Moarah sendiri dalam bahasa Madura adalah kepunyaannya Madura. Moarah juga diartikan sebagai mulut sungai atau hulu sungai sebagai penghubung antara sungai dengan lautan lepas. Hal tersebut dikarenakan kedatangan suku Bugis ke Madura melewati mulut sungai.

Kemudian, suku Bugis itupun menetap di Pulau Madura. Hingga akhirnya bertemu dengan perempuan rantau asal Jawa. Keduanya saling mengasihi hingga berujung pada pernikahan. Berawal dari kedua nenek moyang tersebut yang menjadikan kemajuan peradaban manusia di desa Moarah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Asal Mula Desa Muarah"

Posting Komentar

Jika ingin menyampaikan sesuatu tentang tulisan ini, mohon berkomentar yang sopan dan bersifat membangun.
Meninggalkan jejak link aktif akan tetap berlaku asal masih terkait dengan topik yang sedang dibahas.
Terimakasih